Enaknya olahraga di tempat ini karena banyak alat yang bias kita gunakan, mulai dari angkat beban, jogging smapai bersepeda statis. Dan karena semuanya dilakukan dalam ruanagan, kita gak perlu takut kulitkita terbakar sinarm= matahari.
Selain itu kita bias coba dan ikut berbagai latihan seperti yoga, taebo, belly dancing, dan pillates tanpa perlu mengeluarkan uang lagi. Selesai berlatih, kiat pun bias melepas ketegangansambil rileks di sauna.
Klub olahraga
Dibandingkan pusat kebugaran, tempat ini pastinya menediakan fasilitas olahraga lebih lengkap. Mau olahraga di dalam ruangan seperti fitness atau berlari di trek jogging, bias!
Walaupun dari segi harga biaya untuk bergabung dalam klub olahraga tergolong mahal, di tempat ini kita mendapat layanan lebih eksklusif. Pastinya mendapat fasilitas yang gak kalah bagus dengan iuran anggotanya.
Gelanggang olahraga
Untuk melakukan olahraga di tempat ini, kita gak perlu repot-repot isi formulirpendaftaran dan membayar iuran. Langsung datang saja! Kita bias memilih berlari keliling lapang sepak bola, renang atau senam masal. Si sini juga tempat berkumpulnya berbagai jenis klub olahraga. Mulai dari klub bulutangkis, capoeira smapai wushu tinggal bergabung deh.
Kompleks perumahan
Daerah sekitar rumah bias juga kok, di manfaatkan sebagai tempat olahraga. Coba deh cek siapa tau di sekitar rumah kita ada lapang basket, voli atau bulu tangkis. Apalagi kita sudah tahu daerahnya dan orang0orang yang di sekitarnya. Jadi enggak perlu susah-susah adaptasi. Karna masih di sekitar rumah, kalau lapar atau capek tinggal pulang gampang kan!
Berolah raga memang butuh niat dan tekad yang kuat. Apalagi kalau ingin mengurangi berat badan. Wah… mesti lebih kuat lagi tuh iman kita. Artinya, selain mesti rajin dan rutin, kita juga mesti kuat bilang enggak kalau ada tawaran jajan atau nongkrong di kafe. Ajak sahabat untuk sama-sama berdiet. Jadi ada teman untuk saling mengingatkan.
Kemudian tentukan jenisnya
Pilihan jenis olahraga akan mempengaruhi kerajinan kita dalam menjalani olahraga. Jadi pilih jenis olahraga yang enggak bikin cepat bosan. Lari adalah olahraga murah meriah yang paling cepat menurunkan berat badan.buat yang suka gaul, mendaftar ke klub kebugaran bias jadi pilihan.
Tentukan lokasi
Di mana kita akan berolahraga? Ini penting dopikirkan. Jangan sampai sebelum berangkat berolahraga, kita sudah malas duluan. Sebaiknya pilih liokasi olahrag yang tridak terlalu jauh dari rumah, kampus, atau kantorkita. Kalau ingin mendaftar ke gym, cari yang bias sekalian lewat agar keanggotaan tidak sia-sia. Rugi kan, sudah bayar enggak di pakai.
Jangan saltum
Biarpun ingin membuang keringat bukan berarti penampilan jadi asal. Pilih kostum olahraga yang nyaman pakai. Kaos dari bahan katun atau lycra adalah pilihan paling tepat. Pastikan juga kita memakai sepatu yang sesuai dengan jenis olahraga yang kita pilih.
Kita semua pasti sudah mendengar dan mengenal lama tentang koperasi. Sebab beberapa tahun lalu di Indonesia. Koperasi sempat hidup dan menjadi salah satu alternative pilihan dalam rangka keluar dari kesulitan keuangan dan terlebih lagi untuk menghindari hutang pada lintah darat. Secara harfiah Kopoerasi berarti “bekerja sama” apapun yang dilakukan secara bersama disebut koperasi. Secara UUD Perkoperasian Indonesia, Koperasi adalah Badan usaha yang beranggotakan orang seorang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang beradasarkan atas dasar asas kekeluargaan.
Koperasi didirikan bertujuan untuk menjadikan kondisi sosial dan ekonomi anggotanya lebih baik dibanding sebelum bergabung dengan koperasi. Banyak jenis koperasi yang kita kenal, diantaranya adalah Koperasi Produsen, Koperasi Konsumen dan Koperasi simpan Pinjam dan koperasi Serba Usaha (konsumen).
Kebetulan di kantor suami, saya mengelola simpan pinjam ibu-ibu. Keberadaan koperasi bagi kami memang sangat membantu ibu-ibu untuk mengatasi persoalan keuangan. Kita tahu masalah uang dalam keluarga sangatlah urgen, jika suami istri tidak punya pola pengaturan keuangan dengan baik, uang bisa menjadi sumber konflik utama dalam keluarga.
Meskipun tidak menjalankan sepenuhnya prinsip-prinsip koperasi, simpan pinjam yang saya jalankan bersama anggota lainnya membantu ibu-ibu mengatasi persoalan keuangan mereka. Dengan bunga yang sangat kecil ibu-ibu bisa meminjam uang dari simpan pinjam dan mencicilnya setiap bulan. Dan alhamdulillah proses simpan pinjam ini berjalan lancer, cicilan dibayar tepat waktu dan tidak ada yang macet. Hal menarik yang menjadi pemikiran saya selama mengelola simpan pinjam ini adalah. Penggunaan uang hasil pinjaman bagi anggota. Menurut hemat saya seharusnya uang ini dikelola secara produktif. Misalnya untuk memperlancar usaha kecil bagi anggota. Bagi kami para pengurus memang tidak mempersoalkan anggota menggunakan uangnya untuk keperluan apa, karena uang itu memang untuk dipinjamkan kepada anggota. Beberapa ibu-ibu yang punya usaha sampingan di rumah beliau bisa menggunakan uang hasil pinjaman ini sebagai tambahan modal usaha. Jika manfaat koperasi simpan pinjam untuk keperluan usaha seperti itu tentu saja ini adalah sebuah solusi dalam masalah keuangan keluarga.
Tetapi bagaimana jika sebagian mereka menggunakan uang simpan pinjam ini untuk keperluan konsumtif. Jika untuk biaya sekolah anak barangkali masih lebih berguna. Namun bagaimana jika tidak? Sangat tidak produktif dan menurut saya hanya akan menjadi masalah dalam keluarga. Karena uang yang dipinjam, harus dicicil tiap bulan. Pastilah cukup pusing memikirkan uang cicilan. Karena malah menambah beban hutang. Untuk kasus yang seperti ini, tak jarang saya lihat akhirnya mereka gali lobang tutup lobang setiap bulannya. Apalagi jika meminjam di koperasi tidak diketahui suami, saat tidak punya uang untuk membayar cicilan tidak berani mengadu dan minta bantuan suami. Pasti akn terjadi tekanan psikologis. Akibatnya kucing-kucingan, dan ini bisa menjadi sumber pertengkaran jika suatu kali suami mengatahui istrinya berhutang di belakang beliau. Bisa dibayangkan ini akan menjadi masalah baru dalam rumah tangga.
Koperasi simpan pinjam yang semestinya menjadi solusi bagi keuangan dalam keluarga. Ternyata bagi sebagian kita yang tidak bisa mengendalikan nafsu untuk belanja, malah menjadikan koperasi simpan pinjam sebagai salah satu sumber uang untuk memenuhi pola hidup konsumtif. Bukankan ini adalah masalah bagi keluarga?.
So hati-hatilah dengan simpan pinjam atau sejenisnya, berpikirlah sebelum anda mengambil pinjaman itu. Akan lebih menyenangkan jika bisa hidup tanpa beban hutang. Merasa cukup dengan uang yang ada, atau mencari sumber pendapatan lain agar tak terjerat dalam lingkaran “setan” yang namanya hutang. Mengerikan jika ini terjadi.
Peranan wanita di Bangladesh yang paling tersohor dalam menggerakkan cooperativism, karena mereka menggerakkan dan menjadikan mitra Grameen Bank (GB) yang menjalankan semacam bank yang memberikan pinjaman tanpa jaminan barang. GB mendapat pujian di mana-mana termasuk dari Bank Dunia karena pinjaman yang diberikan tanpa agunan barang. Pinjaman diberikan dalam kelompok-kelompok kecil, bila satu anggota mendapat kredit, anggota yang lain memberikan jaminan bahwa orang itu dapat membayar kembali. Jaminan diberikan atas dasar semangat kebersamaan dalam cooperativisme.
Tulang punggung dari kelompok-kelompok yang mendapat pinjaman dari GB tanpa agunan adalah para wanita atau ibu-ibu. GB ini sejak didirikan 1976 sengaja menggerakkan kelompok-kelompok wanita di Bangladesh sebagai ujung tombak, karena mereka merasa kebiasaan arisan yang ada dalam kalangan wanita di sana dapat dijadikan patokan sebagai kekuatan untuk menggerakkan simpanan dan pinjaman yang bernilai kebersamaan.
GB merupakan contoh keberhasilan pinjaman yang diberikan tanpa jaminan barang (assets), tetapi oleh jaminan dari orang-orang yang bekerja sama dalam semangat coorporativism. Keberhasilan ibu-ibu dalam kelompok yang menjadi mitra GB sungguh mengagumkan, terutama dalam memunculkan peluang untuk memberikan berbagai kesempatan usaha yang disebut Income Generating Activites (IGA), pemerkerjaaan sendiri bagi para ibu dan wanita serta pria yang bekerja dalam sektor informal yang selama ini tidak dapat meraih fasilitas kredit dari bank, karena bank di sana masih mementingkan pemberian kredit kepada mereka yang dapat memberikan jaminan barang. Ibu-ibu di sana turut membantu menggerakkan pemerataan pendapatan di negeri itu melalui tatanan kelompok-kelompok kerja yang menyalurkan simpanan-simpanan. Selain itu, para ibu di sana telah juga membentuk bank-bank desa milik koperasi-koperasi yang tersebar di berbagai daerah. Bank-bank koperasi saat ini di sana praktis dipimpin oleh para ibu yang mempunyai pengalaman berkoperasi secara cukup matang. Dalam percakapan dengan kami mereka mengatakan bahwa dalam pengembangan koperasi di Bangladesh saat ini posisi leadership dalam bank koperasi semakin ditentukan oleh para wanita.
Dari catatan Internasional Laboar Organization (ILO) terdapat keberhasilan Koperasi Lesotho. Ketika itu 75 persen dari anggotanya yang berjumlah 22.000 adalah wanita. Para wanita berperan sangat menonjol dalam leadership (kepemimpinan) koperasi. Keberhasilan mereka untuk terlibat secara aktif dalam aneka kegiatan koperasi sungguh mengagumkan. Akibatnya, sering dijuluki sebagai koperasi yang mampu mengembangkan partisipasi wanita sebagai subyek dalam pengembangan koperasinya.
Kini para anggota wanita banyak terlibat dalam kegiatan produktif yang disebut sebagai income generating activities yang memberikan penghasilan tambahan kepada mereka yang sebelumnya hanya menjadi ibu rumah tangga atau penyimpan yang setia uang milik suaminya, tetapi tidak dapat memanfaatkanya untuk mendatangkan benefit tambahan keluarga. Keberhasilan model Lesotho juga disebabkan penggerak koperasi dapat memanfaatkan himpunan-himpunan arisan yang sudah ada seperti klub ibu-ibu (mother’s club) menjadi kelompok-kelompok integratif dalam koperasi. Karena arisan dinilai mereka sebagai transitory stage (tahapan transisi) untuk menjadi koperasi penuh.
Dalam proses penyadaran para penggerak koperasi selalu menggunakan arisan tradisional yang sudah ada didinamiskan menjadi koperasi. Seni mentransformasikan arisan tradisional menjadi bagian utama dalam koperasi merupakan hal menarik buat disimak. Pengalaman Koperasi Lesotho ini juga sama halnya seperti yang digerakkan oleh kalangan ibu-ibu di Korea Selatan yang menggunakan KAE, semacam arisan ibu-ibu menjadi basis untuk pembentukan koperasi-koperasi yang berhasil menggerakkan IDA di negeri itu.